Ranting NU Tunggulwulung- Istighatsah adalah di antara tradisi yang mengemuka dalam masyarakat Islam Nusantara. Dalam urutan bacaannya yang saat ini berkembang, banyak yang mengacu pada istighastah yang disusun oleh Kiai Romly Tamim, mursyid Tarekat Qadiriyyah dan Naqsyabandiyah Pesantren Rejoso Jombang Jawa Timur, tanpa menafikan variasi lain yang juga berkembang. istighosah merupakan tradisi yang diwariskan oleh Ulama NU. pada istighosah ini juga bertujuan untuk mempererat jaringan silatur rahmi antar warga NU.
Istighatsah adalah pola istif’al dari kata al-ghauts yang berarti pertolongan. Di antara makna wazan atau pola istif’al adalah menunjukkan makna thalab (permohonan atau permintaan) sehingga artinya adalah thalab al-ghauts (memohon atau meminta pertolongan). Dengan demikian, definisi kaprah dari istighastah adalah: طَلَبُ الغَوْثِ عِنْدَ الشِّدَّةِ وَالضِّيْقِ Artinya,“Memohon atau meminta pertolongan ketika dalam keadaan sukar dan sulit.”

pada hari Minggu, 13 November 2022. Ranting NU Tunggulwulung Kec. Pandaan Kab. Pasuruan menggelar acara istighosah rutin yang mana bertempat pada Masjid Khusnul Khotimah dusun Kedawung Desa Tunggulwulung kec. Pandaan. pada rutinan istighosah ini diikuti oleh Pengurus Syuriyah dan Pengurus Tanfidzhiyah Ranting NU tunggulwulung, Jajaran Perangkat Desa, serta Tokoh masyarakaat dan Tokoh Agama. selain itu juga masyarakat dari 6 dusun mengikuti kegiatan ini yaitu dusun katemas, dusun rejoso, dusun tenggulunan, dusun kedawung, dusun Candi dan dusun tegalwaringin kurang lebih 300 orang.
pada kegiatan dilaksanakan setelah sholaat isyak sampai jam 21.00 wib. Diawali denngan pembacaan sholawat Nabi, Sambutan-sambutan, Istighosah dan Tahlil serta Mahalul qiyam. acara ini ditutup dengan mauidhoh hasanah dan doa.
pada mauidhoh hasanah pembicara dari Pasuruan yaitu Ibu Nyai Nur Abidah menyampaikan bahwa Istighosah merupakan sarana memohon ampun dan pertolongan kepada Allah SWT. beliau juga menuturkan tentang amal
“Sebagian daripada tanda berpegangnya seseorang dengan amal, berkurangnya mengharap rahmat Allah ketika adanya kesalahan pada dirinya.”
Apabila kita melakukan satu dosa, apabila kita ketinggalan suatu wirid yang rutin, kemudian kita merasa jauh dari rahmat Allah, merasa jauh dari kasih sayang Allah. Itu menunjukan bahwa kita berpegang dengan amal. Orang-orang yang mulia yang sudah mengenal lebih jauh tentang Allah SWT, dalam keadaan apapun tidak berkurang harapnya kepada Allah, baik mereka dalam melakukan taat atau mereka sedang diuji dengan kemaksiatan. Harap mereka kepada Allah tetap sama. Kenapa sebabnya, karena mereka tidak berpegang kepada amal, namun mereka berpegang kepada rahmat/ anugerah Allah.
Amal itu artinya “harokatul jismi awil qolbi fa in taharroka bima fiihi sawaab suumia thoatan wa in taharroka bima fiihil ‘iqob sumiiat maksiyatan “apabila gerak tubuh/jasad atau hati ada pahalanya itu dinamakan taat, apabila gerak tubuh/jasad atau hati itu mengakibatkan berdosa/disiksa dinamakan maksiat”





