Fadhilah Membaca Istighfar dan Lā haula wa lā quwwata illā billāh

tunggulwulung-pandaan.desa.id. pada hari Minggu pon, 26 Mei 2024 dilaksanaan kegiatan istighosah kubro oleh Ranting NU Tunggulwulung Pandaan. kegiatan ini dilaksanakan bersama masyarakat se-Desa tunggulwulung bertempat di Masjid Al-Hikmah Dusun Tenggulunan.

Istighosah merupakan sebuah tradisi yang telah menjadi bagian penting dari budaya Nahdlatul Ulama (NU), kembali digelar dengan khidmat di berbagai daerah di Indonesia. Ribuan jamaah berkumpul dalam suasana penuh keimanan dan kebersamaan untuk memanjatkan doa bersama, memohon pertolongan dan rahmat Allah SWT.

pada acara ini dihadiri oleh KH. Mahmudi PCNU Bangil. pada saat mauidhoh beliau memberikan nasihat agar saat saat membaca istighosah jangan lupa tawasul kepada KH. Romli Tamim. Istighotsah yang banyak diamalkan oleh kaum Nahdliyyin ini disusun oleh al-Allamah KH Muhammad Romly Tamim, seorang Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, dari Pondok Pesantren Rejoso, Peterongan, Jombang. Hal ini dibuktikan dengan kitab karangan beliau ”Al-Istighotsah bi Hadrati Rabb al-Bariyyah” (tahun 1951) kemudian pada tahun 1961 diterjemah ke dalam bahasa Jawa oleh putranya al-Allamah al-Mursyid Dr. K H. Musta’in Romli.

selain itu juga saat tahlil kita jangan lupa tawasul kepada Syekh Muhammad Yasin bisa Isa al-Fadani al-Makki, atau yang dikenal dengan Syekh Yasin Padang. Syekh Yasin Padang adalah seorang ulama besar dunia Islam dalam bidang hadits dan sanad. Pada abad ke-20, sosok Syekh Yasin Padang adalah satu-satunya ulama dunia Islam yang memiliki mata rantai sanad keilmuan dalam pelbagai bidang dan jalur periwayatan yang menyambung kepada para ulama besar dunia Islam generasi sebelumnya yang paling lengkap dan paling ‘ali (luhur).

Lafal istighfar sudah biasa kita ucapkan dalam keseharian, terutama usai shalat lima waktu dan dipaca pada awal bacaan istighosah. Namun sudah tahukah kita makna istighfar tersebut, sehingga kita perlu rutin membacanya, seperti yang dilakukan Rasulullah saw.

Berikut di antara makna istighfar. 1. Mendapat kelapangan rezeki. Syekh Abdul Wahhab As-Sya’rani dalam kitab Al-Minahus Saniyyah mengutip hadits Rasulullah saw yang menyebutkan kelapangan rezeki sebagai salah satu keutamaan istighfar:  
من لزم الاستغفار جعل الله له من كل ضيق مخرجا ومن كل هم فرجا ورزقه من حيث لايحتسب 
Artinya: Rasulullah saw bersabda: Siapa saja mengekalkan bacaan istighfar, niscaya Allah jadikan baginya sebuah jalan keluar di tengah kesempitan dan sebuah kelonggaran di tengah kesumpekan, dan Allah kucurkan rezeki kepadanya dari jalan yang ia tidak perhitungkan.
2. Sebagai permohonan ampunan.

Istighfar juga disebutkan di dalam Al-Qur’an, Surat Al-Anfal ayat 33.   
وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ  
Artinya: Dan Allah swt, tidak akan mengazab mereka selagi mereka memohon ampunan-Nya.

3. Istighfar di akhir ibadah merupakan pengakuan atas kekurangan dalam ibadah tersebut
Syekh Abdul Wahhab As-Sya’rani juga menjelaskan sebagai berikut
وقد أجمع العارفون على استحباب ختام جميع الأعمال بالاستغفار. وفى الحديث أنه كان صلى الله عليه وسلم يستغفر الله تعالى عقب كل مكتوبة ثلاث مرات تشريعا لأمته وتنبيها لهم على نقص طاعتهم.  
Artinya: Arifun menyepakati anjuran istighfar usai beramal saleh. Dalam riwayat, para sahabat bercerita bahwa Rasulullah saw beristighfar 3 kali tiap selepas sembahyang wajib. Maksudnya, menetapkan syariat istighfar usai beramal bagi umatnya sekaligus mengingatkan akan ketidaksempurnaan ibadah mereka.

Selain itu bacaan Lā haula wa lā quwwata illā billāh. Syekh M Nawawi Al-Bantani menyebutkan sejumlah keutamaan lafal Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi. Ia mengutip hadits riwayat Ibnu Abid Dunya perihal orang yang melazimkan pembacaan lafal Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi.

ومن خواصها ما في فوائد الشرجي قال ابن أبي الدنيا بسنده إلى النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال من قال كل يوم لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم مئة مرة لم يصبه فقر أبدا اهـ

Artinya, “Salah satu keistimewaan lafal hauqalah ini adalah apa yang disebutkan di dalam Fawaidus Syarji, yaitu hadits riwayat Ibnu Abid Dunya dengan sanad tersambung hingga Rasulullah SAW bahwa ia bersabda, ‘Siapa saja yang membaca Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi setiap hari sebanyak 100 kali, maka ia selamanya takkan ditimpa oleh kefakiran,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 5).

Syekh M Nawawi Banten juga mengutip hadits yang menjelaskan keutamaan lafal Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi. Menurutnya, hauqalah merupakan lafal yang baik dibaca ketika seseorang tengah dirundung kesulitan dan kebuntuan.

وروي في الخبر أيضا إذا نزل بالإنسان مهم وتلا لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم ثلا ثمائة فرج الله عنه أي أقلها ذلك ذكره شيخنا يوسف في حاشيته على المعراج

Artinya, “Diriwayatkan di dalam hadits juga bahwa bila kebimbangan hinggap di hati seseorang lalu ia membaca Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi sebanyak 300 kali, niscaya Allah membukakan jalan keluar baginya, maksudnya Allah mengurangi beban kesulitannya. Hal ini disebutkan oleh guru kami, Syekh Yusuf dalam hasyiyah Mi’raj-nya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 5).

semoga kita semua bisa mengamalkan amaliyah NU termasuk istghosah. kita semua diampuni oleh Allah dan mendapatkan barokah Istighosah. amin ya robbal alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.